cerpern
Disaat Ayah Tercinta Jatuh Sakit
Aku Indah Puspita Ningrum, aku memiliki Ayah yang sangat menyayangiku. Ayah merupakan sosok yang sangat bijaksana dan berkarisma. Aku begitu menyayangi Ayah ku lebih dari apapun. Setiap hari aku selalu bercanda dengannya, karena dia termasuk orang yang humoris. Dan menurut ku, ibu ku adalah wanita yang paling beruntung di dunia karena memiliki suami seperti Ayah ku.
Hari ini hari minggu, seperti biasa aku dan Ayah ku duduk bersantai di ruang tamu. Ayah selalu menceritakan pengalaman-pengalaman masa mudanya kepadaku. Aku begitu senang mendengarkannya, karena cerita Ayah begitu menarik. Aku merebahkan kepalaku di paha Ayah, sambil menceritakan tangan Ayah mengusap-usap kepalaku. Aku sangat menyukai hal ini, rasanya benar-benar menenangkan, tak jarang aku teridur saat mendengarkan Ayah bercerita. Pengalaman Ayah begitu banyak, tetapi terkadang Ayah mengulang cerita yang sudah pernah ia ceritakan sebelumnya. Tapi aku tak pernah bosan mendengarkannya.
Malam ini begitu sunyi dan sepi, aku teridur lelap dengan diselimuti mimpi. Tetapi tepat pukul 2 pagi aku terbangun karena mendengar suara orang yang mengerang kesakitan. Aku segera beranjak dari tempat tidurku untuk menghampiri sumber suara itu. Ternyata suara tadi datang dari dalam kamar Ayah ku. Aku terkejut melihat Ayah yang mengerang kesakitan sambil memegangi pinggang bagian belakangnya. Disampingnya ada ibu ku yang terus mencoba menbantu menghilangkan rasa sakit Ayah dengan mengoleskan minyak kayu putih di pinggang Ayah.
Aku tak tega melihat Ayah kesakitan. Tapi aku tak bisa membantu apapun, aku hanya diam ditempatku sambil meneteskan air mata. Ayah menyadari kehadiranku disampingnya, kemudian ia mencoba tersenyum kearahku. meskipun aku tau senyuman itu berbeda dari biasanya, karena terlihat jelas ada rasa sakit yang ia sembunyikan.
“Ayah engga apa apa ko nak” Ayah mengatakan itu dengan senyum terlukis diwajahnya.
Aku hanya diam karena aku tahu Ayah pasti merasakan kesakitan yang amat sangat, tetapi Ayah tak pernah ingin membuatku sedih. Jadi dia selalu menyembunyikan rasa sakitnya dibalik senyum.
“Ayah..” Aku terus menangis dan tak sanggup berkata apapun.
Ayah meraih tanganku dan menarikku kedalam pelukannya, pelukan itu selalu bisa membuatku merasa nyaman dan damai. Ayah terus meyakinkan ku kalau dia tidak sakit. Dan Ayah menyuruhku untuk kembali tidur karena besok aku akan perg ke sekolah.
Pagi ini Ayah akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan peyakitnya. Aku ingin sekali ikut untuk menemani Ayah, Tapi Ayah melarangku karena aku harus berangkat ke sekolah. Aku hanya bisa berharap penyakit Ayah ku tidak serius.
Aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, tapi ada yang tidak biasa di dalam fikiranku. Aku terus memikirkan keadaan Ayah. Tapi aku mencoba untuk bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Karena Ayah selalu mengajarkan kepada ku untuk selalu ceria dalam keadaan apapun. Bel pulang sekolah yang ku tunggu-tunggu akhirnya berbunyi juga. Aku bergegas pulang untuk melihat hasil pemeriksaan Ayah.
Ditanganku sudah ada hasil rongsen dari rumah sakit. Kata ibu Ayah mengalami peradangan dibagian tulang pinggangnya. Aku begitu sedih mendengar penjelasan dari ibu. Kata ibu Ayah harus beristirahat penuh selama dalam proses pengobatan. Kaki Ayah memang menjadi bengkak akibat penyakit itu. Ayah pun kesulitan untuk berjalan.
Disaat Ayah sakit, hari-hari ku begitu sepi. Aku tak bisa bercanda lagi dengannya. Karena kaki Ayah sakit, ia tidak bisa berdiri terlalu lama. Selama seminggu Ayah hanya bisa berbaring di tempat tidur. Aku begitu sedih melihatnya. Aku menghampiri kamar Ayah ku. Aku segera duduk di pinggir tempat tidur Ayah. Aku menatap mata Ayah yang masih jelas menggambarkan keadaannya yang lemah.
“Ayah, aku selalu berdo’a untuk Ayah supaya Ayah cepat sembuh dari penyakit ini” Aku memeluk tubuh Ayah ku.
“terima kasih sayang, sebentar lagi Ayah akan segera sembuh” katanya dengan senyum indah.
Setiap malam aku selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt. untuk menyembuhkan penyakit Ayah ku.
“Ya Allah, tolong Ayah ku , sembuhkanlah penyakitnya ya Allah. Lindungilah ia dan dekap ia dalam kash sayangmu ya Allah. Amin” ucapan do’a ini tak habis-habisnya ku ucapakan.
Selama hampir satu minggu Ayah terbaring di tempat tidur. akhirnya keadaan Ayah mulai membaik, kakinya sudah bisa berjalan lagi. pengobatan yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. Aku begitu senang melihatnya. aku, ibu dan kakakku begitu gembira. Tapi kata dokter Ayah masih harus memeriksakan keadaanya. Karena tubuhnya belum pulih benar.
“Ayah sekarang udah sembuh” ku peluk tubuh Ayahku erat.
Ayah membalas pelukanku dengan sama eratnya. Aku melihat senyum indah merekah di wajahnya, kali ini seyumannya menggambarkan kegembiraan.
“Ayah senang, akhirnya Ayah bisa sembuh, karena Ayah engga tega melihat kamu menangis” katanya dengan mata yang berbinar.
Malam ini aku ingin sekali mendengar Ayah bernyanyi. aku pun menghampiri Ayah yang sedang duduk diruang tamu. aku memintanya untuk menyanyikan ku sebuah lagu. Aku tertidur dipangkuan Ayah ku, karena suaranya yang merdu. Dia menyanyikan ku lagu yang berjudul “AYAH”.
Pagi ini aku sarapan dengan nasi goreng masakan Ayah, karena selama Ayah sakit aku tidak pernah makan masakan Ayah. Ayah sangat jago memasak Ibu ku saja kalah. Dan hari-hariku kembali berwarna.
Aku tidak ingin Ayah sakit, aku tidak ingin kehilangan dia. Dia begitu berarti dalam hidupku. Aku sangat menyayangi dan mencintainya. Semua rasa ini tak sanggup digambarkan dengan kata-kata. Ayah selalu mengajarkannku untuk tidak menunjukan setiap rasa sedih atau sakit yang dirasakan. Karena melihat orang yang dicintai menangis akan lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang dirasakan. Maka tetap tersenyum dan menghadapi apapun dengan penuh kesabaran. Karena Allah sangat menyayangi orang-orang yang bersabar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar